Lompat ke konten utama
Kesehatan Mental

Tugas Rumah Tangga Bagi Anak Laki-laki, Mengapa Tidak?

03/2023
children washing car

Di negara berkembang seperti Indonesia, keberadaan working mother atau ibu pekerja, semakin banyak dan dibutuhkan di dunia kerja. Bahkan, sebuah survei yang dirilis konsultan Grant Thornton menyatakan, 36% posisi senior manajemen di perusahaan- perusahaan di tanah air diduduki oleh perempuan. Dengan tingkat pertumbuhan yang mencapai 16% per tahun, Indonesia masuk dalam sepuluh besar negara dengan jumlah perempuan posisi senior terbanyak di dunia.

Torehan tersebut tentu saja menggembirakan, yang mana menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan kesetaraan gender di dunia kerja nasional. Walau begitu, ibu pekerja masih menghadapi problema yang sama: mereka berjuang menyeimbangkan karir dan tugas rumah tangga. Pasalnya, mayoritas ibu pekerja masih menjalani seluruh aktivitas di rumah, seperti mengasuh anak, memasak, dan membersihkan rumah.

Ketika para orang tua berharap kesetaraan gender terjadi di ranah domestik, sayangnya banyak dari mereka yang meneruskan kebiasaan buruk yang sama, yaitu membagi peran gender di rumah secara kaku kepada anak-anak mereka. Setidaknya, itulah kesimpulan terbaru yang dirilis tim peneliti Pew Research Center.

Dengan menganalisis data tentang bagaimana anak-anak menghabiskan waktu mereka di rumah, peneliti menemukan bahwa dalam sehari anak laki-laki menghabiskan satu jam lebih banyak ketimbang anak perempuan ketika bermain di rumah. Sementara itu, anak perempuan menghabiskan lebih banyak waktu daripada anak laki-laki dalam membersihkan diri (23 menit), mengerjakan PR (21 menit), membereskan rumah (14 menit) dan menjalani tugas suruhan orang tua mereka (10 menit).

Apalagi, sedari kecil, berbagai tugas berbeda telah diterapkan oleh orang tua kepada mereka. Misalnya, para ibu cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak perempuan mereka untuk memasak, melakukan pekerjaan rumah tangga, dan berbelanja ketimbang dengan anak lelaki mereka. Sedangkan para ayah kerap melibatkan putra mereka dalam aktivitas yang berhubungan dengan memperbaiki kondisi rumah yang rusak hingga kegiatan santai seperti menonton televisi. Tidak heran nantinya, anak-anak membawa pola-pola semacam itu di kala dewasa.

Kendati demikian, ada berbagai tip dan trik yang bisa dilakukan para ibu dan ayah yang ingin membesarkan anak-anak mereka dengan peran yang lebih adil, tanpa melihat gender. 

 

1. Dimulai dari orang tua

Orang tua harus memperlihatkan kepada anak-anak mereka pembagian peran yang tidak kaku di rumah. Misalnya, ayah memasak. Di saat yang sama ibu, membetulkan keran yang bocor. Selain itu, ketika Ayah dituntut untuk bisa mencuci piring dan melipat cucian, ibu juga mesti mampu mengganti ban mobil.

 

2. Tanamkan kedisiplinan

Data Pew Research menemukan bahwa anak perempuan menghabiskan dua kali lebih banyak waktu untuk mengerjakan PR ketimbang anak laki-laki. Selain itu, anak perempuan mengerjakan PR dengan tingkat perfeksionisme yang lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki. Sehingga, anak laki-laki sering menjauhkan diri dari aktivitas belajar karena dianggap terkait dengan apa yang dilakukan oleh saudara perempuannya.

Padahal, ini lebih kepada soal kedisiplinan. Anak-anak, baik laki-laki atau perempuan, harus punya rasa tanggung jawab dan disiplin di setiap aktivitas yang mereka jalani. Ketika masing-masing dari mereka memiliki tugas sekolah, penting bagi orang tua untuk berharap kepada mereka agar mengerjakan tugas tersebut secara disiplin dengan hasil yang sama baiknya. Karena itu, tidak ada lagi perasaan lumrah apabila anak laki-laki itu malas belajar, sementara anak perempuan selalu memiliki nilai yang lebih baik di sekolah.

 

3. Ajak anak laki-laki untuk “bertukar peran”

Saatnya ibu untuk mengajak putranya membantu membersihkan rumah dan memasak di dapur. Sementara, anak perempuan membantu ayah memperbaiki router WiFi dan mengganti bola lampu. Disarankan orang tua menggunakan bagan tugas yang memastikan semua pekerjaan dibagi sama rata di antara setiap anggota keluarga. Dengan begitu, akan terlihat alokasi tugas yang sama antara anak laki-laki dan anak perempuan. 

 

4. Hapus stigma "pekerjaan khusus perempuan"

Orang tua pada umumnya sering merasa nyaman ketika mendorong anak perempuan mereka untuk menjadi astronot atau pengacara. Akan tetapi, mereka sering tidak begitu nyaman saat memotivasi putranya untuk menjadi guru atau perawat. Sebagian besar tren dunia kerja di berbagai negara menunjukkan bahwa wanita lebih mudah masuk ke ranah pekerjaan pria, seperti dunia medis dan bisnis. Sebaliknya tidak bagi laki-laki.

Lantas, bagaimana menerapkan hal itu di rumah? Seringlah mengajak anak perempuan untuk menjaga dan merawat saudara kandungnya yang lebih muda, walaupun ia adalah anak laki-laki. Sehingga, sang adik tahu berbagai aktivitas menarik yang dapat dilakukan sang kakak perempuannya.

Ketika mereka dewasa, ajak untuk mengenal berbagai instrumen proteksi keluarga. Sehingga, anak perempuan tahu bagaimana cara terbaik menyelamatkan keluarganya yang sakit. Ini bisa dilakukan dengan sedari dini mengomunikasikan perihal asuransi sederhana kepada anak-anak.

 

5. Pastikan pasangan aktif terlibat

Hal ini semestinya tak perlu lagi diutarakan. Tetapi, ini bukan semata tentang pembagian tugas rumah tangga kepada ayah. Melainkan bagaimana ayah mampu membesarkan anak laki-lakinya agar mau lebih terbuka dengan hal-hal feminin.

Dengan kata lain, orang tua harus memastikan bahwa anak laki-lakinya tidak merendahkan atau menjauhkan diri dari femininitas atau hal-hal yang selama ini dilakukan oleh anak perempuan. Mereka mulai belajar sejak dini untuk membuang stereotipe bahwa anak laki-laki jauh lebih unggul ketimbang anak perempuan.

Kelima tips tersebut jika diterapkan secara konsisten, akan membiasakan anak-anak tidak hanya mau menjalankan tugas apapun di rumah secara adil, melainkan juga melatih kedisiplinan diri untuk menjalankan tugas secara bertanggung jawab.